Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Cerpen

Doa Sebilah Pisau Dapur

            Aku hanya bisa diam melihat dan menerima perlakuan mereka. Mereka yang terus menunjukku dengan telunjuk mereka. Memandang dengan tatapan marah. Seolah apa yang telah kuperbuat adalah luar biasa fatal. Menghakimiku atas apa yang terjadi. Padahal, aku melakukannya juga bukan atas kehendakku. “Kau sungguh kejam! Bagaimana kau bisa melakukan hal itu pada seorang kakek yang tidak berdosa?” kata salah seorang yang melihat. “Benar! Tidak adakah sedikit nurani dalam hatimu?” tambah yang lain. “Sudah! Harap tenang semua!” kata hakim ketua. “Tidakkah kau merasa bersalah atas apa yang telah kau lakukan?” “Katakanlah sesuatu, barangkali itu bisa meringankan hukumanmu!” tambah hakim ketua. Aku terus diam. Karena aku tahu, apapun yang keluar dari mulutku hanya dianggap lelucon oleh mereka. Aku hanya dijadikan alat untuk merenggut nyawa orang lain secara paksa. Namun, setelah semua itu terbongkar, mereka melimpahkan semua kesalahannya padaku. ...

Keripik Bayam

          Dinginnya rembulan kian tergantikan dengan hangatnya mentari. Raja siang mulai   menampakkan wajahnya, tak satupun yang ada di dunia ini mampu menandingi keperkasaannya. Bau seperti belerang masih tercium di sana-sini. Tanah panas, yang tak diguyur hujan berhari-hari, kini mulai dingin kembali. Karena sang hujan bersedia mampir di desaku walau hanya sejenak. Namun cukup membuat kerisauan dalam hati mereda. Jangankan untuk mengairi sawah dan ladang, untuk mandi dan cuci saja kami masih kerepotan. Air yang tak seberapa, kami cukupkan untuk bertahan hidup. Kadang kala kami harus membeli hanya untuk membasahi kerongkongan yang kian mengering. Walau hanya sekali dalam sehari, kami cukupkan untuk mandi. Kesehatan dan kebersihan tetap menjadi prioritas. Tuhan selalu tahu kerisauan hamba-hamba-Nya. Sumur yang dibangun tiga tahun lalu secara swadaya, menjadi urat nadi di desaku saat musim kemarau tiba. Sungguh keberkahan bagi desa, karena air dala...

Dandelion

Pagi yang indah dan cerah, secerah hati dan wajah Karan. Tak ada apapun atau siapapun yang dapat membutnya menyerah akan keadaan. Dia kan terus berusaha melawan penyakit yang dideritanya selama ini. Rasa sakit yang kian menjadi sejalan dengan bertambahnya usia, tak membuatnya gentar, melainkan hal itu menjadi dorongan dan semangat tuk terus maju dan mewujudkan semua cita-citanya. Sudah 18 tahun Karan merasakan sakit yang kian menjadi. Semenjak dokter memvonisnya mempunyai penyakit jantung yang lemah sejak lahir. Selama ini belum ada pendonor yang mempunyai jantung yang cocok dengannya. Kata dokter, hidupnya tak akan lama lagi, itulah yang membuat kedua orang tuanya cemas dan sedih. Namun, usia tidak ada seorangpun yang tahu, kecuali Tuhan Yang Maha Kuasa. Keadannya dulu, memang tak separah sekarang. Namun, semangatnya dari dulu sampai sekarang tak pernah berubah dan padam. Tuhan terus memberikanya kehidupan dan semangat untuk melawan penyakitnya itu. Dia berfikir, mungkin agar ia b...

Kue Kacang

      Hari begitu cerah pagi itu. Matahari telah mengintip dari ufuk timur.  Angin pagi bertiup di pepohonan.  Gemercik air begitu indah terdengar di telinga.  Ayam berkokok bersahut-sahutan sejak subuh tadi. Suasana di pedesaan sungguh sangat membuatku tenang. Jauh dari suara kendaraan dan keramaian yang setiap hari berlalu lalang.  Sungguh, benar-benar indah alam ciptaan Tuhan.  Aku juga terkadang heran, mengapa manusia begitu tega untuk merusak alam. Seperti menebang pohon dan membuang sampah sembarangan sesuai yang seenak yang mereka kehendaki. Padahal jika kerusakan telah terjadi, mereka tidak mau disalahkan sedikitpun.       Hatiku begitu perih mengetaui hal tersebut. Terkadang aku berfikir, bagaimana caranya untuk mewujudkan keindahan dan kesejukan di kota metropolitan agar bisa seperti desa yang sedang kusinggahi sekarang ini.  Tetapi, apa daya, aku sekarang hanyalah seorang anak berumur 14 tahun...